Selasa, 30 Januari 2024

APA ITU E-TRADING?

     E-trading atau electronic-trading sering disebut juga dengan nama online trading (perdagangan daring) adalah proses membeli dan menjual aset secara elektronik berbasis platform internet. Aset yang sudah mulai banyak ditransaksikan secara daring (dalam jaringan) atau online di Indonesia adalah saham, obligasi, reksadana, dan future. Perdagangan saham daring sudah mulai dilakukan di dunia sejak tahun 1990 dan di Indonesia sudah mulai popular sejak tahun 2000.

     Jika transaksi saham dilakukan secara manual maka investor harus menghubungi broker (pialang) saham baik lewat telepon atau datang ke kantor pialang. Investor kemudian memberikan instruksi-instruksi transaksi saham baik instruksi membeli atau menjual saham kepada pialang. Investor juga harus memberi penjelasan kepada pialang mengenai jangkauan harga yang disetujui, lama instruksi-instruksi tersebut berlaku, apakah berlaku hanya sehari saja atau masih berlaku untuk hari-hari selanjutnya, pialang kemudian mengomunikasikan hasilnya. Investor kemudian akan menstransfer dananya ke pialang jika proses pembelian saham terjadi atau sebaliknya pialang akan menstransfer dananya ke investor jika proses penjualan saham terjadi.

     Transaksi saham secara daring akan lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan transaksi saham secara manual. Transaksi saham secara daring akan lebih efisien dalam bentuk waktu dan biaya. Penghematan waktu karena dilakukan sendiri oleh investor tanpa adanya komunikasi manual dengan pialang dan tidak ada waktu tertunda dalam mengeksekusi transaksi. Penghematan biaya terjadi karena keterlibatan pialang lebih berkurang, maka komisi (fee) yang dibebankan oleh pialang akan lebih rendah. Transaksi saham secara daring akan lebih efektif dalam bentuk sasaran transaksi yang akan dicapai oleh investor. Karena secara daring, maka investor akan dapat bertransaksi dengan harga saham yang sedang terjadi sehingga keputusan investor untuk membeli dan menjual saham akan lebih tepat. Keuntungan lainnya bertransaksi saham secara daring adalah kecepatan proses transaksi, dan ketersediaan data yang lengkap yang disediakan oleh pialang secara online untuk mendukung transaksi. 

Sumber : BMP

Universitas Persada Indonesia Y.A.I

Senin, 29 Januari 2024

UMPAN BALIK (FEEDBACK)

     Setelah portofolio selesai dibuat dan dieksekusi, portofolio ini perlu terus dievaluasi dan di-monitoring. Evaluasi dan monitoring ini penting dilakukan karena kinerja portofolio akan terus berubah sesuai dengan kinerja aset-aset di dalamnya. Hasil dari evaluasi dan monitoring perlu digunakan sebagai masukan atau umpan balik bagi portofolio.

     Jika kinerja portofolio turun, maka portofolio perlu diperbaiki atau diseimbangkan (rebalancing). Rebalancing dilakukan jika biaya membongkar portofolio lebih kecil dari kenaikan kinerjanya. Rebalancing tidak dilakukan jika biaya membongkar portofolio lebih besar dari kenaikan kinerjanya dan akibatnya portofolio kinerja portofolio tidak akan optimal. Supaya kinerja portofolio tetap optimal dari waktu ke waktu maka proses perencanaan portofolio yang baik sangat memegang peranan.

Sumber : BMP

Universitas Persada Indonesia Y.A.I 

Jumat, 26 Januari 2024

Menentukan Ekspektasi Pasar Modal ke Depan

     Menentukan ekspektasi pasar modal ke depan adalah mengekspektasi kondisi pasar modal di masa depan yang harus dipersiapkan sedini mungkin. Penentuan ekspektasi pasar ini adalah hal yang paling penting sebab jika salah akan berakibat fatal pada kinerja portofolionya.

     Menentukan ekspektasi pasar modal ini juga akan menentukan pilihan sekuritas yang akan dimasukkan ke portofolio. Misalnya, diekspektasikan bahwa pasar modal akan tetap dalam kondisi bullish (baik) di masa depan, dan diputuskan akan dipilih sekuritas-sekuritas yang mempunyai beta tinggi (>1) untuk portofolionya karena jika nantinya kinerja pasar modal benar meningkat maka kinerja sekuritas-sekuritas tersebut akan meningkat lebih besar dibandingkan dengan peningkatan kinerja pasarnya. Jika ekspektasinya salah, maka kinerja sekuritas-sekuritas tersebut juga akan turun lebih besar dari penurunan kinerja pasarnya.

     Untuk menentukan ekspektasi pasar modal ke depan perlu mempertimbangkan banyak faktor eksternal yang memengaruhi kinerja pasar modal. Faktor-faktor eksternal ini diantaranya adalah politik, ekonomi, sosial, dan sektor industri.

 

Sumber : BMP 


Universitas Persada Indonesia Y.A.I

Kamis, 25 Januari 2024

Lo Kheng Hong Sebut Kebiasaan Warga RI Ini Bikin Miskin

 Lo Kheng Hong (CNBC Indonesia/Houtmand P. Saragih)

Menabung memang perlu dilakukan sebagai bagian dari perencanaan keuangan sebelum berinvestasi. Namun, Investor saham Indonesia yang dijuluki Warren Buffett-nya Indonesia, Lo Kheng Hong terang-terangan mengatakan menyimpan uang di bank akan membuat investor perlahan-lahan jatuh miskin.

"Menyimpan uang di bank sebetulnya membuat kita miskin secara pelan-pelan karena nilai uang kita semakin hari semakin turun," kata Lo Kheng Hong saat menjadi pembicara di acara Capital Market Summit & Expo (CMSE), dikutip Kamis (25/1/2024).

Tidak hanya itu, Lo Kheng Hong juga memilih tidak membeli obligasi atau surat utang, karena menurutnya bunga yang diberikan juga tidak besar. "Saya juga tidak membeli emas," kata Lo Kheng Hong.

Lo Kheng Hong hanya tertarik membeli saham karena terbukti membuatnya kaya dan memiliki harta ratusan miliar. Siapa sangka, dia pernah cuan besar dari saham PT United Tractors Tbk (UNTR) yang merupakan momen awal dirinya mengeruk keuntungan besar dari investasi saham.

Dia mengungkapkan alasan utama yang membuat dirinya berinvestasi saham, khususnya di Indonesia. "Bursa saham Indonesia menawarkan imbal hasil tertinggi di antara bursa saham utama di dunia bagi investor jangka panjang. Sudah terbukti! Saya bersyukur saya ada di dalamnya," kata Lo Kheng Hong.

Hingga saat ini, kata Lo Kheng Hong, hampir 99% masyarakat Indonesia tidak percaya kalau investasi saham adalah pilihan terbaik. Masyarakat lebih menempatkan uang di bank atau dibelikan properti, dibanding beli saham.

Lo Kheng Hong merupakan orang yang sangat teliti dan bisa menghabiskan waktu lama membaca laporan keuangan. Usaha yang dilakukan Lo dalam meneliti laporan keuangan menunjukkan tidak sembarangan dalam memilih saham untuk investasi.

Pada 1998, Lo Kheng Hong membeli saham PT United Tractors Tbk (UNTR). Saat itu laba bersih UNTR minus Rp 1 triliun. Akan tetapi pendapatan perusahaan sekitar Rp 2 triliun-Rp 4 triliun dengan laba operasional sekitar Rp 1 triliun. Lo menilai laba bersih tersebut minus karena kurs. 

Ini merupakan momentum awal dari kesuksesan Lo Kheng Hong sebagai investor saham. Cerita seperti ini diulang pada saham-saham yang lain.

Pada saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), Lo membeli pada harga Rp 1.000/saham. Lalu menjualnya pada harga rata-rata Rp 10.000/saham. Dari saham INKP, Lo berhasil meraup cuan besar dari Rp 35 miliar menjadi Rp 350 miliar. Dan ini didapat dalam kurun waktu 1,5 tahun.

Lo mampu meraup cuan hingga 5.900% dari saham UNTR dan 900% dari saham INKP.

Menurut Lo, satu kunci sukses sebagai investor saham adalah bisa mengontrol emosi.
 
Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20240125072458-17-508811/lo-kheng-hong-sebut-kebiasaan-warga-ri-ini-bikin-miskin
 

 

 

Rabu, 24 Januari 2024

Sasaran-sasaran Portofolio

Sasaran portofolio yang akan dibentuk sangat tergantung dari karakteristik investor-investor pembelinya, terutama sangat tergantung dari preferensi risiko investor. Oleh karena itu, setelah dipahami preferensi dan batasan-batasan yang dimiliki oleh calon investor- investor maka sasaran portofolio dapat ditentukan, yaitu apakah portofolio dengan risiko tinggi, risiko sedang, atau risiko rendah.

Trima Tutorial - Trimegah Investasi Apps 

 Sumber : BMP

Universitas Persada Indonesia Y.A.I

 

Selasa, 23 Januari 2024

Batasan Investasi

Dalam penetapan kebijakan portofolio, perlu juga diperhatikan batasan- batasan yang dihadapi investor berupa sebagai berikut. 

1) Likuiditas yang berhubungan dengan kecepatan aktiva dijual dengan harga yang wajar.

2) Horison investasi yang berhubungan dengan lama waktu investasi.

3) Pajak dan peraturan yang akan berdampak pada return yang akan diterima oleh investor. Investor institusi secara khusus terikat dengan aturan yang terkait, misalnya peraturan dana pensiun yang melarang menginvestasikan seluruh dana karyawan hanya pada saham.

4) Kebutuhan-kebutuhan unik investor yang berbeda antara satu investor dengan yang lainnya.

 

Sumber : BMP

Universitas Persada Indonesia Y.A.I